Pertanyaan penting dijawab langsung supaya operator paham platform ini sejak awal.
FAQ ini menjelaskan batasan, tujuan, teknologi, dan cara kerja halaman publik, dashboard internal, serta Telegram control center.
FAQ ini menjelaskan batasan, tujuan, teknologi, dan cara kerja halaman publik, dashboard internal, serta Telegram control center.
FAQ ini diposisikan sebagai layer kejelasan cepat sebelum user masuk ke dashboard, provider setup, atau workflow approval.
Fokusnya tetap ke workflow, kontrol, visibility, dan posture sistem, bukan ke janji hasil otomatis yang tidak bisa diaudit.
Questions
Bukan. Fokus utamanya adalah monitoring, approval, provider connectivity, dan workflow AI trading yang bisa direview operator.
Ia dirancang untuk membaca market context, risk, dan reasoning, lalu memperlihatkan proses keputusannya supaya operator bisa menilai apakah setup itu layak diterima atau ditolak.
Supaya halaman publik tetap rapi, sementara dashboard internal dan endpoint sensitif tetap aman di backend.
Ada. Telegram dipakai untuk register, link akun, cek runtime, melihat pending approval, approve atau reject request, dan kontrol dasar agent untuk admin.
Frontend memakai Next.js, backend memakai FastAPI, data memakai PostgreSQL dan Redis, AI copilot memakai OpenAI, dan kontrol operasional dibantu oleh Telegram.
Bisa. Client bisa menyimpan koneksi provider, menjalankan test ulang, melihat permission yang terbaca, dan memantau snapshot hasil koneksi dari halaman Exchange.
Ya. Domain publik lewat Nginx, sementara upstream frontend dan backend tetap di loopback internal.
Fast read
Platform ini dirancang untuk supervised workflow, jadi operator tetap melihat konteks sebelum membiarkan sistem bertindak.
User bisa membaca status, digest, approval, dan provider posture tanpa bergantung hanya pada satu permukaan kontrol.
Trade result, hold-state, filter reason, dan noise pair dipakai untuk memperkaya memory dan ranking berikutnya.